Kamis, 22 April 2021

Dago Bandung

Ketika mencari lokasi hotel untuk staycation Bandung yang nyaman dan mudah diakses, Dago selalu muncul dalam daftar rekomendasi. Bukan hal yang mengagetkan sebenarnya, sebab kawasan tersebut merupakan salah satu pusat wisata di Kota Kembang. Khususnya untuk generasi muda yang senang nongkrong di kafe dan menyaksikan pertunjukan musik.


Sejumlah hotel yang berlokasi di Dago juga menawarkan city light dan pegunungan yang akan mengoptimalkan pengalaman staycation. Namun, apa Anda sudah tahu sejarah kawasan tersebut? Apa yang terjadi sebelum Dago menjelma jadi tempat wisata yang ramai?


Kawasan rawan rampok dan hewan buas

Keberadaan Dago sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Jalanan panjang di kawasan ini dulu masih berupa jalan setapak dan menjadi satu-satunya akses penduduk menuju pasar yang berada di pusat kota. Melewati jalur ini pun penuh tantangan, sebab ada perampok hingga hewan buas yang biasanya menunggu di daerah hutan yang sekarang menjadi Terminal Dago.

Berdasarkan sejumlah tulisan, Bandung tempo dulu memang menjadi tempat bermukimnya badak hingga harimau. Maka dari itu, penduduk yang berada di dekat kawasan rawan akan pergi bersama-sama untuk alasan keamanan. Mereka lantas saling menunggu atau ngadagoan dalam bahasa Sunda. Dari sinilah nama dago muncul untuk tempat tersebut.


Sudah menjadi tempat peristirahatan sejak dulu

Reputasi Dago sebagai salah satu kawasan penginapan populer di Bandung ternyata sudah terbentuk sejak Belanda masih berada di Pulau Jawa. Pada masa itu, mereka mendirikan rumah peristirahatan sekaligus kawasan elit di sana. Salah satu peninggalan sejarah yang paling terkenal adalah Dago Thee Huis atau Dago The House yang diprakarsai Andre van der Brun pada 1905.

Sepuluh tahun kemudian atau pada 1915, pemerintah Hindia Belanda memulai pembangunan jalan Dago yang dinamakan Dagostraat. Pengembangan kawasan tersebut semakin gencar dilakukan pada periode 1920-1940 dengan munculnya sarana pendidikan seperti Technische Hoogeschool te Bandoeng atau yang sekarang dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung. Dibuka pada 3 Juli 1920, ITB adalah perguruan teknik pertama di Hindia Belanda pada masa itu.

Selepas masa kemerdekaan, Dagostraat lantas berubah nama jadi Ir. H. Juanda pada 1970. Hal ini juga menjadi penanda perubahan Dago sebagai pusat wisata dan wilayah komersial di Bandung. Setelah pembukaan Supermarket Superindo pada 1987, muncul sejumlah factory outlet di sepanjang kawasan Dago. Disusul pusat perbelanjaan, kafe, dan hotel yang membuat Dago selalu dipadati wisatawan.


Meski kini Anda tak akan menjumpai perampok atau hewan buas di Dago, tempat ini sepertinya masih mempertahankan asal-usul penamaannya. Terbukti dari banyaknya orang yang saling tunggu di hotel atau tempat makan sebelum berkumpul dengan teman atau kerabat keluarga mereka.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © strong man - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -