Kamis, 02 September 2021

Windy Kartika


Kendati Olimpiade Tokyo telah usai, kisah-kisah membanggakan yang dibawa para atlet Indonesia dari perhelatan besar ini masih sering diperbincangkan. Termasuk di antaranya dari Windy Cantika Aisah, lifter putri yang nenyumbangkan medali pertama bagi tim Merah Putih. Hal ini membuatnya jadi wanita Indonesia yang menginspirasi, terutama bagi mereka yang ingin menjadi lifter di masa depan.

Sebelum berhasil meraih medali perak dan menorehkan total angkatan 194 kilogram (snatch 84 kilogram dan clean and jerk 110 kilogram) Windy telah melewati jalan yang panjang. Berikut kisah perjalanan hidup Windy yang bisa menjadi pemicu semangatmu.


  • Kenal angkat besi sejak 2 SD

Karier Windy sebagai atlet angkat besi atau lifter ternyata sudah dipupuk sejak dini. Adalah sang ibu yang kali pertama memperkenalkannya pada olahraga tersebut saat dia duduk di bangku 2 SD. Namun, Windy baru menekuni angkat besi saat berada di kelas 5 SD.

Ketika berkenalan dengan angkat besi, Windy kecil masih sekadar ikut-ikutan. Lantas baru saat menginjak usia 12 tahun atau kelas 1 SMP, dia mulai serius menekuni angkat besi. Apalagi saat itu Windy didaftarkan ke klub olahraga di Bandung yang langsung dibina Maman Suryaman, mantan lifter nasional.


  • Memenangi berbagai turnamen

Prestasi Windy sebagai lifter ternyata cukup panjang. Di usianya yang masih belasan, dia mengikuti sejumlah turnamen yang jadi perhitungan poin Olimpiade. Salah satunya adalah Asian Championships pada April 2019 di Tiongkok dengan catatan angkatan total 177 kilogram.

Setelah IWF World Championships 2019 di Pattaya, Thailand, Windy berhasil meraih puncak prestasi saat mengikuti SEA Games 2019 di Filipina. Pada saat itu, dia memecahkan rekor dunia di kelas 49 kilogram junior. Total angkatan yang diperoleh adalah 190 kilogram.


  • Jadi penerus tradisi medali angkat besi putri

Keberhasilan yang Windy raih di Tokyo secara langsung mengukuhkan tradisi medali Olimpiade dari angkat besi putri. Selama lima perhelatan olimpiade terakhir, lifter putri yang mengikuti Olimpiade sukses menyumbang medali lewat nama, salah satunya Ramea Lisa Rymbewas dengan dua perak dan satu perunggu.

Lalu, ada Sri Indriyani yang meraih perunggu di Olimpiade Sydney 2000 dan Winarni Binti Slamet yang mendapatkan medali yang sama. Dua nama lainnya, Citra Febrianti dan Sri Wahyuni Agustiani, memberi medali perak dari Olimpiade London 2012 dan Olimpade Rio de Janeiro 2016.

Perjuangan Windy mencetak prestasi membanggakan ternyata tak lepas dari rintangan. Dia ternyata sempat terpapar Covid-19 pada Desember 2020 dan diharuskan menjalani isolasi mandiri. Namun, tekad kuat dan kesungguhan membantunya pulih, hingga akhirnya bisa mengikuti Olimpiade Tokyo.

Semoga perjuangan dan prestasi Windy sebagai lifter putri membakar semangat generasi muda untuk mengikuti jejaknya yang membanggakan.

 

 

 

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © strong man - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -